Media Populer

dicuplik dari buku komunikasi masyarakat oleh yoga atmaja

community_meetingIstilah populer berasal dari bahasa latin “populi” yang berarti rakyat. Istilah ini dikembangkan oleh Paolo Freire yang mengembangkan sistem pendidikan populer. Menurut Freire, populer berarti sesuatu yang merakyat. Segala sesuatu yang dekat dengan masyarakat, bersentuhan dengan kehidupan masyarakat sendiri, milik masyarakat, digunakan oleh masyarakat bahkan pemanfaatannya ini kelak akan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri.

Media populer adalah alat/ instrumen yang awalnya digunakan oleh pendidikan kerakyatan dalam membantu proses pembelajaran, atau lebih jauh mengembangkan komunikasi antar manusia keluar dari sebuah sistem dan struktur yang mengakibatkan proses dehumanisasi. Sebagai instrumen yang membantu proses pemahaman masalah atau materi yang sedang dibahas, maka media populer harus mampu untuk mempermudah mengkomunikasikan, mengungkapkan hal-hal yang rumit. Jadi sebagai alat, media bisa digunakan untuk berbagai ragam tujuan, tetapi tidak untuk semua tujuan. Karena setiap media memiliki ciri (karakteristik), memiliki kekhasanya masing-masing, sehingga hanya tepat digunakan untuk tujuan-tujuan yang khas dan sesuai pula.

Lalu apa yang membedakan antara media populer dengan media umum/ mainstream selama ini? Perbedaan paling mendasar adalah: pertama, pada tujuan membuat, memilih dan menggunakan medianya; kedua. sumber utama pesan diambil dari masyarakat. Pesan itu kemudian dianalisis, ditentukan tujuannya apakah untuk pendidikan, pengorganisasian dan lainnya dan ditentukan jenis media yang akan digunakan. Tentu saja proses tersebut harus berlangsung secara partisipatif. Dengan demikian media populer sangat jarang dilepas/ disebar secara bebas, harus ada yang memandu sehingga mencapai tujuan. Jika tidak, maka akan kembali terjebak ke media mainstream ke arah intervensi dari si pembuat media lagi dan disebarkan lagi melalui mekanisme umum (pasar). Memang kadang kala media populer dapat juga disebar/ distribusi secara bebas pada isu tertentu, namun bukan itu tujuan utama dari media populer.

Suatu (media) bisa dikatakan populer apabila telah memenuhi ketiga unsur, yaitu

Penguasaan.

Untuk menjadi populer, segala informasi dan teknologi yang masuk ke dalam harus dikuasai oleh masyakat. Masyarakat menjadi tahu tentang seluk beluk informasi dan teknologi sebelum mengelolanya. Bagaimana mungkin bisa mengelola sebelum bisa mengenali fungsinya dengan baik terlebih dahulu. Jadi penguasaan ilmu dan teknik menjadi syarat mutlak sesuatu yang popular

Pengelolaan

Masyarakat bisa mengelola proses dari pembentukan sesuatu yang popular. Misalnya masyarakat jadi mengetahui proses merencanakan, membuat dan mengevaluasi media yang dibuatnya.

Pemanfaatan

Pemanfaatan hasilnya adalah bagian terakhir dari unsur yang dikatakan popular. Rakyat mampu memanfaatkan hasil media sebagai instrumen untuk memahami realitas sosial yang sedang terjadi. Selain dimanfaatkan untuk proses pendidikan di masyarakat, pemanfaatan media populer yang lain digunakan untuk melakukan kampanye, membangun opini publik kepihak luar. Pemanfaatan media populer dalam tingkatan ini sering terjebak dengan media umum lainnya.

Perbedaan lain yang mendasar antara media populer dengan media umum, adalah mengenai jangkauan. Media umum biasanya jangkauannya luas, untuk kalangan yang luas pula. Kalaupun pembuat media mainstream melakukan spesifikasi lagi kepada target audiens yang lebih kecil, tetap targetnya adalah masyarakat umum. Sedangkan media populer biasanya jangkauannya lebih kecil, dan target audiencenya sangat spesifik. Hal ini disebabkan karena perbedaan besarnya dana yang tersedia untuk membuat media. Media umum biasanya diproduksi/ disponsori oleh swasta atau pemilik modal usaha, sedang media populer diproduksi oleh masyarakat itu sendiri.

Walaupun terjadi perbedaan biaya yang dikeluarkan untuk media, belum menjamin bahwa media mainstream yang memiliki dana yang besar akan mampu menggilas media populer. Kunci keunggulan media populer adalah pada kedekatan (proximity) audience, karena direncanakan, dibuat, didistribusikan, disebarkan dan dievaluasi secara partisipasi oleh masyarakat itu sendiri. Kedekatan dari masalah yang dihadapi, orang yang dihadapi maupun pemilihan media itu sendiri yang kemudian tidak menjadi asing. Dari itu semua, kompetisi/ persaingan yang terjadi ialah dalam hal kreatifitas mengembangkan beragam media yang menarik. Kedekatan dengan pemirsa/ rakyat tidak akan menjadi keunggulan yang signifikan dari media populer, jika kreatifitas memilih dan menggunakan media tidak ada.

Beberapa perbedaan lain antara media populer dengan media umum dapat dilihat pada Tabel di bawah ini. Kolom didalam Tabel tersebut dibagi dalam: Kolom (1) Item; (2) Media Mainstreaming; (3) Media Populer

Tujuan Perubahan perilaku, pengukuhan status quo, rekayasa sosial Pernyataan diri, pembentukan kesadaran, tindakan pembebasan
Sifat Terpusat, mengawasi secara ketat, membakukan norma dan nilai lama, mengarahkan perilaku seseorang guna menciptakan dukungan kepada pusat kekuasaan Menyebar, mengembangkan lembaga dan memperjuangkan kepentingan masyarakat setempat
Isi pesan Selektif dan saling berkaitan; ditentukan dari “atas”, Kebijakan pusat kekuasaan, peringatan, peraturan, ancaman Berbagai pandangan dan saling bersaing, tanggap terhadap keinginan khayalak, sesuai masalah setempat, erat kaitannya dg sejarah dan nilai setempat.
Produksi Distandarisasi, kreatif, rutin dan terkontrol Kreatif, bebas, cepat dan asli
Biaya Mahal Murah
Jenis saluran Koran, tv, majalah, radio, dll Sama, tetapi lebih sering pertemuan, diskusi, ngobrol
Jenis media Brosur, film, cerita, poster dll Sama
Pemberi pesan Kelas Penguasa, Pemilik modal, Kelompok elit dominan, lapisan atas terpelajar Pemberi pesan adalah juga penerima pesan
Penerima Pesan Dependen, pasif dan diorganisasi dalam skala besar Spesifik, penerima pesan adalah juga pemberi pesan
Hubungan pemberi, penerima pesan Asimetrik, dominatif, manipulatif Simetrik, kesetaraan, kadang manipulatif
Jangkauan Luas, tak terukur pasti Terbatas, terukur pasti
Prosespenye-baran Membujur dari atas ke bawah (vertikal), searah (monolog) Melintang ke samping (horizontal), atau dari bawah ke atas (bottom up), dua arah (dialogis)
Efek Besar, mempertegas tatanan sosial yang sudah mapan Beraneka ragam; menggerakkan secara terbatas
Peran masyarakat Kelompok sasaran Kelompok partisipan

Kekuatan lain dari media populer adalah adanya hubungan yang simetris antara pemberi pesan dan penerima pesan. Hubungan yang simetris menjadikan media bukan menjadi alat peraga (ilustrasi) saja, supaya diskusi tidak membosankan. Melainkan lebih luas lagi yakni sebagai alat memindahkan kekuasaan dari pemberi informasi ke penerima informasi menjadi saling berbagi informasi. Dengan demikian media populer harus mampu menjadi sandi (code) diorama kehidupan tentang suatu kejadian, gejala atau permasalahan tertentu. Kemudian mengajak partisipan (penerima pesan) berpikir tentang sesuatu, mendiskusikannya bersama, berdialog untuk menemukan pemaknaan (kodifikasi/ encoding) atas diorama kehidupan. Kemudian menemukan bersama pemahaman, pengetahuan dan kesadaran baru dari suatu diorama kehidupan (dekodifikasi/ decoding).

lingkaran_400

Jika mereka kemudian melangkah lebih maju dengan menyusun gagasan dan rencana, apalagi sampai benar-benar melakukan tindakan nyata, untuk merubah dan memperbaiki keadaan, gejala, atau permasalahan, maka mulailah terjadi suatu “perubahan kearah perbaikan” (transformasi). Setelah melakukan tindakan itu, mereka kembali lagi memikirkan dan mendiskusikannya, mulai lagi suatu proses kodifikasi baru, berlanjut terus ketahap dekodifikasi dan kemudian transformasi berikutnya. Jadi media populer harus dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan segenap indera penerima pesan sehingga dapat mendorong terjadinya proses tindakan/ transformasi. Kalau suatu masyarakat menghayati dan mengamalkan daur proses ini kedalam kehidupan sehari-hari mereka, maka sesungguhnya suatu “masyarakat yang terus menerus memperbaiki dan memperbaharui diri mereka sendiri secara kritis” (transformative society) telah berlangsung.

Jenis-jenis media populer
Pada prinsipnya, tidak ada perbedaan jenis media populer dengan media mainstream lainnya. Dilihat dari konteks kebutuhan dan kemampuan masyarakat, pilihan jenis media populer lebih terbatas dibandingkan dengan media umum. Hal ini disebabkan karena pilihan jenis media harus didasarkan pada kemudahan masyarakat untuk berpartisipasi dalam akses, proses produksi media, pembuatan kebijakan, pengelolaan media termasuk juga pembiayaannya.

Media dalam perkembangannnya semakin bermacam-macam, dengan jenis yang hampir tak terbatas. Diperlukan cara yang tepat dalam memilih media supaya bijak, efektif dan efisien untuk menghasilkan tindakan komunikasi menjadi lebih lancar. Secara umum biasanya dibagi dua yakni verbal (media melalui percakapan) dan non verbal (media selain percakapan). Dengan adanya perkembangan teknologi, maka media dibagi dalam empat bagian yakni:

petamediajpg_400

  • verbal dan ekspresif: media yang menggunakan bahasa lisan, bahasa tubuh, kadang dibantu menggunakan alat yang sederhana yang ada di sekitar untuk mengkomunikasikan pesan. Termasuk dalam media ini adalah: percakapan, ekspresi tubuh, simulasi, nyanyian, permainan, tari, isyarat dan lainnya;
  • cetak: media yang menggunakan tulisan, gambar yang dicetak di di atas medium kertas, kain, plastik, kaos atau yang lainnya. Termasuk dalam jenis media ini adalah, poster, leaflet, buku, brosur, laporan, spanduk dan lain-lain;
  • elektronik/ multi media; media yang menggunakan sarana elektronik/ listrik. Termasuk di dalam media ini adalah rekaman lagu/ suara,film, foto, kaset, cd interaktif, presentasi power point, dan lain-lain;
  • zyber; media yang menggunakan bahasa digital. Termasuk di dalam media ini adalah situs web, email, blog, social network, dan lain-lain.

Media yang telah dipilih dan dihasilkan kemudian disebarkan ke audiens melalui berbagai saluran. Terdapat dua macam pola penyebaran, yakni: 1) Menyebar bebas, membiarkan audiens memahami pesan yang disampaikan; 2) Menyebar terkontrol, yakni media tersebut setiap kali digunakan harus dipandu, supaya tujuan tercapai.

Komunikasi masyarakat, biasanya menggunakan pola menyebar terkontrol. Ini untuk memastikan bahwa melalui proses fasilitasi antara audiens yang dipandu, akan memberikan hasil yang lebih optimal. Media yang menyebar terkontrol, biasanya jangkauannya lebih kecil, dan target audiensnya sangat spesifik. Meski jumlah audiens kecil, Kunci keunggulan media yang menyebar dengan cara dipandu, adalah pada kedekatan (proximity) audience, karena direncanakan, dibuat, didistribusikan, disebarkan dan dievaluasi secara partisipasi oleh masyarakat itu sendiri. Kedekatan dari masalah yang dihadapi, orang yang dihadapi maupun pemilihan media itu sendiri yang kemudian tidak menjadi asing.

Sumber: Kawanusa