Stevani Elisabeth | Sabtu, 16 Februari 2013 – 12:29:04 WIB

13160213-MAKNONGprofil-3.JPG
(SH/Stevani Elisabeth)

Enam belas tahun lamanya, Mama Nong mengajak para ibu membuat tenun kain songke khas Manggarai.

Enam belas tahun silam, perempuan yang berasal dari Kabupaten Ende ini harus berjalan kaki puluhan kilometer, keluar-masuk kampung untuk mengajak ibu-ibu menenun kain songke. Saat itu, ibu tiga anak ini sangat gemas melihat banyak perempuan yang tidak memiliki kesibukan.

Siang itu, cuaca cukup terik di pesisir pantai Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), tepatnya di Kampung Ujung. Kampung ujung merupakan perkampungan nelayan di tepi pantai Labuan Bajo.

Sebagian besar penduduknya berasal dari suku Bajo dan Bugis yang sudah lama dikenal sebagai suku-suku pelaut. Di antara penduduk suku Bajo, ada yang berasal dari suku Bajo Pulau, mereka yang bertempat tinggal di pulau-pulau kawasan Komodo seperti Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Papagarang dan sebagainya.

Pada saat pembukaan Sentra Kreatif Batik (SKB) Taman Laut Zi Biru di kampung ini, saya sempat bertanya kepada masyarakat di kampung itu, termasuk juga pejabat di kampung itu seputar tenun, sebab dalam benak saya, NTT terkenal dengan tenunnya.

“Mama Nong saja, beliau yang bisa menjelaskan,” ujar Marcelius Abot, seorang tokoh masyarakat di Labuan Bajo. Lelaki paruh baya ini kemudian menyuruh salah seorang penduduk untuk mencari Mama Nong di tengah kerumunan orang di acara pembukaan SKB tersebut.

Tidak lama, seorang perempuan mengenakan blus kuning dan selendang kain songke (tenun khas Manggarai) berjalan ke arah kami. Adelheid L Sendaboda, perempuan yang satu ini sering disapa dengan Mama Nong oleh penduduk di Labuan Bajo.

Wajah Mama Nong sangat ceria hari itu karena apa yang dia upayakan sejak tahun 1997 telah menunjukkan hasil bahkan dilirik oleh pemerintah pusat.

“Saya gemas melihat ibu-ibu yang hanya buang banyak waktu dengan duduk-duduk sambil cerita sana-sini. Saya ingin ada sesuatu yang mereka lakukan dan bermanfaat,” ujarnya. Dengan sabar, Mama Nong mulai mengumpulkan ibu-ibu dan remaja putri di kampung dan mengajari mereka menenun.

Awalnya, ada beberapa yang malas diajak membuat kain songke karena hasil yang mereka peroleh tidak besar dan mereka bingung memasarkannya.

Perempuan kelahiran 16 Desember 1967 ini tidak patah arang. Selain mengajar menenun dan membuat desain, dia juga membantu memasarkan hasil tenunan ke rumah-rumah. Setiap hari, dia berjalan kaki menjajakan kain songke. Pada tahun 2000 dia memperoleh kesempatan untuk bekerja sama dengan penggerak PKK dan Dekranasda Kabupaten Manggarai Barat.

Kebanjiran Order

Inilah awal kebangkitan kain songke. Apalagi setelah pemerintah daerah mengeluarkan keputusan pejabat dan pegawai pemda, DPRD, sekolah menggunakan seragam dari kain songke setiap Rabu dan Kamis. Para pengrajin kain songke yang dibina mama Nong kebanjiran order.

Order terus berdatangan, apalagi pada 2008 ketika di daerah tersebut berdiri hotel-hotel biasa hingga berbintang. Hotel-hotel tersebut banyak memesan kain songke untuk desain interior seperti taplak meja, hiasan dinding, sarung bantal kursi, sarung bantal, tempat tisu hingga selimut.

Mama Nong bisa memenuhi orderan tersebut karena ada ratusan pengrajin kain songke binaannya. Saat ini ada lima desa yang dia bina, yakni Desa Kakor, Wae Moso, Wae Nakeng, Repi,dan Lalong. Tiap desa masing-masing memiliki 70-100 pengrajin. Menurutnya, selama ini pemasaran kain songke masih di wilayah Manggarai dan sekitarnya. Beberapa waktu lalu Kemenparekraf pernah membawa kain songke sebanyak 800 lembar ke Australia.

Tidak berhenti di situ, pada musim liburan, kain songke juga cukup laris terjual. Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Komodo selalu membeli kain songke untuk cendera mata. Mereka lebih suka menggunakan selendang. “Kalau musim liburan, kita duduk 1-2 jam saja sudah dapat Rp 10 juta,” lanjut Mama Nong.

Pengerjaan kain songke bisa memakan waktu seminggu hingga satu bulan. Setiap tahun, Mama Nong selalu mengikuti pelatihan dan pengembangan motif. Berbeda dengan tenun ikat Ende yang menggunakan pucuk daun kelapa kering untuk mengikat dalam membuat motif, motif kain songke justru dianyam langsung di atas tenunan. Motif diikat dari luar dan dalam atau yang dikenal dengan hum atas dan hum bawah.

Ada sembilan motif kain songke di antaranya motif mata manuk (mata ayam), gelombang laut, ranggong (sarang laba-laba) dan jok (lambang rumah adat). Motif-motif tersebut dipadukan dalam tenunan.

Awalnya, kain songke hanya berwarna hitam. Namun, dalam perkembangannya, kain songke hadir dengan warna-warna cerah seperti merah muda, kuning, biru, dan hijau.

Dipadukan dengan batik

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) beberapa waktu yang lalu mencoba memadukan batik dengan kain songke. Para pengrajin batik dari Jawa didatangkan ke SKB untuk melatih pengrajin kain songke membatik.

“Bagi saya tidak ada masalah selama tidak mengurangi ciri khas kain songke,” ujar Mama Nong. Dia mengatakan yang terpenting adalah sosialisasinya dan proses pemasarannya.

“Jangan hanya mandek di pelatihan-pelatihan saja. Bantu kami memasarkannya,” lanjut dia. Ke depan, dia berencana mengembangkan sisa-sisa kain songke untuk dijadikan cendera mata seperti tas, topi, dan sebagainya. Menurutnya, orang asing sangat menyukai cendera mata yang unik.

Senang Jalan Kaki

Mama Nong memiliki hobi jalan kaki. Setiap hari dia jalan kaki keluar-masuk kampung. Bahkan, sesekali dia mengajak anaknya berjalan kaki ke salah satu kampung. Ada kenikmatan tersendiri yang mampu mengalahkan lelah. Dia senang bergaul dengan masyarakat desa. “Orang desa itu polos, tapi jangan lukai hati mereka,” ujarnya.

Untuk dekat dan akrab dengan masyarakat desa, kuncinya tidak kikir dan tidak egois. “Mereka tidak akan lupa sama kita,” lanjutnya.

Sumber : Sinar Harapan