Danau Limboto, terus mengalami pendangkalan dari tahun ke tahun karena beberapa faktor, termasuk perkembangan eceng gondok yang luas. Foto: Christopel Paino

Terkait

Danau Limboto yang masuk wilayah Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo, diperkirakan hilang tahun 2025. Rugaya Biki, Kepala Bidang Lingkungan Hidup pada Badan Lingkungan Hidup Riset dan Teknologi (Balihristi) Gorontalo, mengatakan, permasalahan utama karena pendangkalan dan penyusutan areal danau.

“Masalah lain pertumbuhan eceng gondok, penurunan kualitas air danau, penurunan populasi dan jenis biota perairan, serta okupasi tanah yang timbul di kawasan danau Limboto oleh masyarakat,” katanya kepada Mongabay Indonesia, akhir Januari 2013.

Pada 1932, luas danau Limboto 8.000 hektar dengan kedalaman 30 meter. Tahun 1970 luas menjadi 4.500 hektar dan kedalaman 15 meter. Tahun 2003, luas 3.054,8 hektar, kedalaman menyusut jadi empat meter. Tahun 2010, luas danau 2.537, 2 hektar dengan kedalaman tinggal dua sampai 2,5 meter. “Tahun 2012, luas danau hanya 2.500 hektar dengan kedalaman 1,876 sampai 2,5 meter.”

Menurut Rugaya, tutupan eceng gondok dan tanaman air lain saat ini mencapai sekitar 30 sampai 40 persen dari perairan danau. Kondisi ini, menyebabkan populasi dan biota perairan, seperti ikan manggabai (Glossogobius giuris), tawes (Puntius javanicus), dan payangga (Ophiocora porocephala) menurun.

Dia menjelaskan, danau Limboto berfungsi sebagai penyedia air bersih, habitat tumbuhan dan satwa, pengatur fungsi hidrologi, pencegah bencana alam seperti banjir, stabilisasi sistem dan proses-proses alam. Juga penghasil sumberdaya alam hayati, penghasil energi, sarana transportasi, rekreasi dan olahraga, sumber perikanan baik budidaya maupun perikanan tangkap, sampai sebagai sarana penelitian dan pendidikan. “Namun danau akan hilang dan hanya jadi kenangan jika tidak dijaga. Karena danau Limboto salah satu aset alam penting di Gorontalo.”

Amir Dako, aktivis lingkungan dari Japesda Gorontalo mengungkapkan, sesungguhnya banyak upaya mengatasi kekritisan danau ini. Namun, banyak konflik kepentingan baik di hulu maupun di daerah sekitar badan danau menyebabkan persoalan ini tak kunjung selesai.

Di daerah hulu, degradasi hutan tinggi menyebabkan laju sedimentasi meningkat. Sistem perladangan di lahan miring pun tidak sesuai kaidah konservasi dan galian C tidak terkontrol membuat sungai makin melebar dan kering. Di danau sendiri, penggunaan alat tangkap merusak menyebabkan bibit ikan musnah dan mempercepat pendangkalan.

“Di pesisir danau, pengkaplingan dan penguasaan tanah oleh orang-orang tertentu seperti oknum Polisi dan TNI. Masalah lain laju tumbuh eceng gondok dan tumbuhan liar lain yang tak terkendali,” ucap Amir.

Madryanto Otuhu, Kepala Desa Dumati, Kecamatan Telaga yang berdekatan dengan danau Limboto menambahkan, persoalan utama pendangkalan di danau ada di hulu. Sebab hutan-hutan semua sudah kritis. “Meskipun membuat program hebat sekalipun untuk selamatkan danau, kalau daerah hulu dibiarkan begitu saja dijarah, sama dengan omong kosong.”

Dia melihat dengan mata kepala sendiri, banyak masyarakat menggunakan mesin gergaji besar beraktivitas di daerah hulu. “Mereka berani menebang pohon di atas karena ada yang berada di belakang, seperti Polisi dan TNI.”

Luas danau Limboto berada pada dua wilayah, 30 persen Kota Gorontalo, dan 70 persen Kabupaten Gorontalo serta menjangkau enam kecamatan dan 24 kelurahan atau desa.“Danau Limboto menampung air dari lima sungai besar dan 23 sungai kecil. Tanpa danau ini, wilayah Kota Gorontalo dan ibukota Kabupaten Gorontalo, Limboto, akan terendam banjir,” kata Amir.

Danau Limboto, riwayatmu kini. Kondisi makin kritis dan diprediksi hilang pada 2025. Foto: Christopel Paino

Penggundulan hutan, penggunaan bahan berbahaya saat menangkap ikan di danau, menjadi bagian dari pemicu masalah di Danau Limboto. Foto: Christopel Paino

Sumber:

http://www.mongabay.co.id/2013/02/14/danau-limboto-gorontalo-diprediksi-hilang-2025/