http://mantasa.org/book-launch-kisah-meja-makan

Meja makan mungkin hanya sebuah perangkat dengan fungsinya yang spesifik yang menempati sebuah ruang diantara banyak ruang lain di dalam sebuah rumah. Namun di balik apa yang tersaji di atas meja makan menunjukkan bagaimana keluarga dan atau komunitas mencoba memenuhi kecukupan pangan sesuai tradisi dan kebudayaan mereka. Itu adalah salah satu cuplikan presentasi yang disampaikan oleh Baning P. dalam peluncuran buku KISAH MEJA MAKAN: Pemberdayaan Masyarakat Urban Menuju Kedaulatan Pangan yang diadakan di PSPK (Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan) UGM pada tanggal 10 Januari 2013. Ketiga penulis buku, Dr. Baiquni, Dr. Agr. Sri Peni W. dan Baning P masing-masing memaparkan pandangannya terhadap masalah pangan di Indonesia. Dr. Baiquni memaparkan bahwa modernitas yang saat ini ada di masyarakat telah merubah wajah sistem pangan yang ada di dalam masyarakat. Seperti contohnya, kulkas, sebuah teknologi yang mampu menyimpan makanan dalam jangka waktu panjang, akibatnya distribusi makanan tidak lagi seperti dulu. Jika dulu orang selalu membeli makanan segar setiap hari, dengan adanya kulkas maka tidak perlu setiap hari ke pasar, dan secara tidak langsung ini mempengaruhi bagaimana petani berproduksi. Sementara Baning P, seorang aktivis petani, menekankan bagaimana pada saat ini bahkan di tingkat keluarga sudah kehilangan konteks tentang dari mana makanan berasal. Ia mengistilahkannya sebagai “pangan yang tidak pernah dimengerti”, karena sesungguhnya apa yang ada di piring kita memiliki berjuta cerita. Tidak ada yang pernah benar-benar memikirkan nasi kita berasal dari mana, atau gandum yang ada di dalam mi instan kita berasal dari negara mana. Baning juga menegaskan mengenai pentingnya mulai berpikir bahwa pangan adalah hak asasi manusia. Saat ini hak asasi atas pangan dikuasai oleh 5 perusahaan benih besar yang semuanya adalah perusahaan asing. Dia sebagai petani merasa tidak pernah bisa benar-benar berdaulat karena harus selalu terus membeli benih dari pabrik karena benih-benih lokal semakin hilang. Dr. Peni kemudian melanjutkan presentasi dengan menegaskan pentingnya komunikasi antara produsen dengan konsumen. Sehingga konsumen yakin dengan apa yang diproduksi oleh produsen, dan produsen juga bisa mempertanggungjawabkan produk yang dihasilkan oleh konsumen. Sehingga produsen dan konsumen sama-sama saling mempercayai. Dr. Peni juga mengungkapkan beberapa kegiatan CEES yang berpusar pada pendidikan karena pendidikan adalah dasar dari pengertian tentang masalah pangan. Ia mengungkapkan cukup sulit untuk meyakinkan orang untuk mengonsumsi makanan lokal karena adanya pikiran yang sudah terbentuk di masyarakat dengan adanya ungkapan-ungkapan seperti “mental tempe“, walaupun dari segi nutrisi tempe sebenarnya sangat berkualitas. Pendidikan pangan sejak dini sangat penting untuk membentuk karakter anak saat nanti dewasa sehingga mereka bisa membuat pilihan mengenai apa yang ingin mereka konsumsi karena itu juga berdampak pada banyak hal. Dr. Peni juga mengungkapkan perlunya penyuluhan terhadap para pembuat kebijakan, bukan saja untuk masyarakat. Karena bagaimanapun semua pihak harus saling berkomunikasi tanpa henti sehingga tujuan tercapai. Sebagai contoh, ia selalu meminta stafnya untuk menyajikan makanan non-terigu setiap ada acara, di awal hal itu sangat sulit dilakukan dengan berbagai alasan, namun tetap harus selalu dilakukan sehingga orang mulai paham mengapa ia selalu menolak untuk mengonsumsi gandum. Dari diskusi banyak peserta yang kemudian mulai paham betapa banyak isu di balik makanan, yang ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Bahwa makanan yang dimakan sehari-hari ternyata telah mengalami perjalanan ribuan kilometer dari negara asal mereka dan tanpa sadar kita juga berkontribusi terhadap masalah dimana makanan tersebut berasal. Sebagai contoh restoran siap saji yang menyediakan ayam goreng, mereka menggunakan banyak sekali jagung di produk-produk mereka, dan jagung itu ditanam di hutan Amazon, dimana ribuan penduduk asli Amazon diusir dari rumah yang sudah mereka huni selama ratusan tahun. Tentu ini tidak pernah terbayangkan oleh kita, namun sudah saatnya kita mulai bertanggung jawab dengan apa yang kita makan. Buku bisa didapatkan dengan cara memesan ke www.cees.or.id. [HD