Oleh SALOMO SIMANUNGKALIT

Di Indonesia sapi begini lembu begitu sama saja. Kamus Poerwadarminta dan Kamus Besar mencatat sapi ya lembu, lembu ya sapi. Di Malaysia lain halnya. Kamus Dewan mencantumkan lembu ’sejenis binatang ternakan untuk mendapatkan susu dan dagingnya’, Bos longifrons, Bos brachyceros. Adapun sapi ’binatang yang rupanya seperti lembu dan berwarna hitam’, Bos indicus.

Dalam urusan perdapuran, kedua bahasa negeri bertetangga itu mengenal telur mata sapi, telur yang digoreng tanpa diaduk sebelumnya dan biasanya diusahakan agar bagian kuningnya tidak pecah. Meski sapi begini lembu begitu sama saja, di negeri kita tidak dikenal telur mata lembu. Di negeri jiran, menurut Kamus Dewan, dikenal pula telur mata lembu yang setali tiga uang dengan telur mata sapi. Apakah telur mata lembu lumrah di sana dalam percakapan sehari-hari, sila melancong dan singgahi kedai-kedai makan di Kuala Lumpur.

Lembu dipakai hampir di seluruh Malaysia. Di Indonesia, secara demografis, keterpakaian sapi lebih tinggi daripada lembu. Kerabat saya di Sumatera Utara fasih menyebut daging lembu, tetapi politik bahasa nasional dikendalikan dari Jakarta. Daging impor berarti daging sapi impor. Tak ada yang lain. Masuk akal bila ungkapan yang berkembang sehubungan dengan hewan yang dagingnya sedap disantap dalam olahan rendang maupun dendeng itu menemukan aktualitasnya dalam bahasa Indonesia pada sapi ketimbang lembu. Kamus Besar edisi terakhir mencatat frasa yang dimulai dengan lembu atau sapi: tujuh untuk lembu dan sepuluh untuk sapi.

Dalam perkara frasa yang dimulai dengan sapi, Kamus Alan M Stevens dan A Ed Schmidgall-Tellings (2004) susunan dua orang jauh mengungguli Kamus Besar anggitan Pusat Bahasa (2008) yang pengumpul datanya 137 orang. Kamus Stevens dan Schmidgall-Tellings mendaftarkan 22 frasa, termasuk di situ sapi Banpres. Duet pekamus ini mengartikan sapi Banpres sebagai ’cattle usually imported from Australia by the Indonesian government and distributed to farmers using special funds provided by the president’, sapi ternak yang biasanya diimpor pemerintah Indonesia dari Australia dan didistribusikan kepada peternak dengan dana khusus yang disediakan presiden.

Pusat Bahasa kecolongan membekuk ”sapi bantuan presiden” ke dalam Kamus Besar. Dalam otobiografinya, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, Soeharto memaklumatkan bahwa sampai pertengahan 1985 sudah 2.000 bibit unggul sapi Banpres disebarluaskan kepada peternak. Dengan cermat Stevens dan Schmidgall-Tellings mencatat sapi memasuki gelanggang politik melalui sapi Banpres yang dimulai pada 1974 itu.

Kamus Besar mencatat sapi perahan sebagai kiasan untuk orang yang diperas tenaganya atau penghasilannya oleh orang lain. Akhir Oktober 2012 sapi perahan masuk gelanggang politik sejak Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan mencetuskan sinyalemen bahwa beberapa BUMN menjadi sapi perahan beberapa anggota DPR.

Yang tinggi tingkat pemakaiannya di media saban presiden hendak mengumumkan susunan kabinetnya adalah dagang sapi. Tentu ini tak ada hubungannya dengan sapi Banpres sebab yang dimaksud adalah perihal tawar-menawar dalam pembentukan kabinet di antara partai-partai politik (Kamus Besar) atau political bargaining (Kamus Stevens dan Schmidgall-Tellings). Yang saat ini tengah ditangani KPK, pada hemat saya, adalah bersatunya makna denotatif dagang sapi (impor) dan makna konotatif dagang sapi (akhir 2009) dalam sebuah perkara.

Sumber: Kompas, 8 Februari 2013

http://cetak.kompas.com/read/2013/02/08/02250254/sapi