Oleh Siwi Nurbiajanti

Tiga tahun lalu, nasi sisa yang dikeringkan, atau nasi aking, mengoyak perhatian. Adalah Turina (45), warga Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, dan keluarganya yang terpaksa memakan nasi aking karena tak mampu membeli beras.

Nasi aking menjadi simbol kemiskinan yang membelit warga. Di halaman ini, Turina mengisahkan, sisa nasi, yang dimakannya sebagai nasi aking itu, diperoleh dari tetangganya atau sisa kondangan (Kompas, 10/2/2010).

Wajah kemiskinan itu seperti terulang pada Taripah (58), warga Desa Pagejugan, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Selasa (5/2), ia menyendok sedikit demi sedikit nasi aking yang ditanaknya ke piring. Nasi aking itu, dengan lauk sepotong tahu, menjadi santapan makan siang Taripah bersama ayahnya, Darsa (95), dan anaknya, Supin (23).

Bukan kali ini saja

Menyantap nasi aking bukan kali ini saja dilakukan Taripah dan keluarganya. Sejak lima bulan lalu, ia sering memakan nasi aking karena tak mampu membeli beras. Harga beras yang mencapai Rp 8.500 per kilogram tak terjangkau oleh Taripah, yang bekerja sebagai buruh serabutan.

Dia memilih menjadikan nasi aking sebagai pengganjal perut karena harganya cuma Rp 2.000 per kilogram. Bahkan, nasi aking yang dimakannya pun acap kali diperoleh dari tetangganya yang iba.

Taripah tinggal dengan anak keenamnya, Supin, yang juga menjadi buruh serabutan. Ia bercerai dengan suaminya, Mursa (85), yang tinggal di Kecamatan Bulakamba, Brebes, sejak setengah tahun lalu.

Lima anak Taripah yang lain sudah berkeluarga, dan rata-rata hanya sebagai buruh serabutan. Mereka hampir semuanya tidak lulus sekolah dasar. Keenam anak Taripah itu adalah buah perkawinannya dengan suami pertamanya, Kasturi, yang meninggal 23 tahun lalu.

Menurut Taripah, ia mendapatkan uang apabila ada orang yang mempekerjakannya sebagai buruh. ”Biasanya menjadi buruh pembersih bawang merah. Upahnya Rp 20.000 per hari,” katanya.

Dalam sepekan, terkadang dia hanya bekerja satu hari sehingga uang Rp 20.000 harus cukup untuk memenuhi kebutuhan makan selama sepekan. Supin pun tak banyak membantu sebab ia juga jarang mendapatkan pekerjaan. Dia lebih banyak di rumah atau sesekali mencari kepiting di sungai.

Taripah memang memperoleh jatah beras untuk keluarga miskin (raskin) dari pemerintah. Namun, dengan alasan pemerataan, raskin tak diperoleh sesuai ketentuan, 15 kilogram, tetapi hanya 5 kilogram. Ia harus berbagi dengan warga miskin lainnya.

Raskin sebanyak 5 kilogram itu diperolehnya dengan harga Rp 10.000. Akibatnya, dia kian kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehingga sering memilih mengonsumsi nasi aking, yang diperoleh dengan harga murah. Sebelum dimasak, nasi aking— di Brebes lebih sering dipakai untuk pakan itik—dicuci terlebih dahulu. Setelah itu, nasi direndam sekitar 15 menit, sebelum kemudian ditanak.

Nasi aking dimakan dengan lauk seadanya, seperti kerupuk, terung, tahu, atau bawang merah. Di rumah Taripah tampak beberapa sayuran yang mulai mengering, seperti pepaya muda dan terung, di atas tampah. Itulah cadangan lauk untuk menemani nasi aking. Bersama ayah dan anaknya, dalam sehari Taripah bisa menghabiskan 1 kilogram nasi aking untuk tiga kali makan.

Kemiskinan makin mendera setelah rumah yang ditempatinya terbakar pada pertengahan Agustus lalu. Saat ini, Taripah mulai memperbaiki rumahnya meski masih belum layak pakai. Sebagian sisi rumah yang berlantaikan tanah itu masih ditutup dengan kain terpal, yang tidak selalu mampu menahan curahan air hujan.

Tak ada barang berharga di dalam rumah itu, kecuali sebuah dipan kayu, tungku untuk memasak dari batu bata, dan beberapa panci aluminium. Pecahan genteng dan potongan bambu berserakan di pojok ruangan rumahnya. ”Pembangunan rumah ini pun atas bantuan warga,” kata Warid (60), Ketua RT 004 RW 004 Desa Pagejugan, tempat tinggal Taripah.

Menurut Warid, uang untuk membangun rumah Taripah diperoleh dari iuran sukarela warga, yang terkumpul sekitar Rp 1,5 juta. Ia juga berharap pemerintah membantu mengatasi kemiskinan Taripah.

Suliya (56), adik Taripah, menambahkan, selama ini kakaknya hidup serba kekurangan. ”Semua dibantu warga. Batu bata untuk membangun rumahnya dibantu warga. Nasi aking yang dimakannya juga sebagian dari warga sini,” ujarnya.

Kemiskinan mendera karena mereka tidak memiliki pekerjaan tetap dan pendidikan yang memadai. Mereka mengandalkan kemampuan tenaga untuk menjadi buruh serabutan saja.

Taripah-Taripah yang lain

Bupati Brebes Idza Priyanti, Selasa sore, mendatangi Taripah di rumahnya. Ia memberi bantuan berupa bahan pangan. Bupati juga memberikan uang untuk modal bagi Taripah agar bisa memulai usaha sebagai jaminan kelangsungan hidupnya.

Pemerintah Kabupaten Brebes, kata Idza, juga akan mengecek ke beberapa daerah lain untuk mencari kemungkinan ada Taripah-Taripah lain. Mereka pasti akan dibantu.

Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kabupaten Brebes Amin Budi Raharjo mengatakan, bantuan yang diberikan kepada keluarga Taripah, antara lain tiga dus mi instan, dua dus ikan kalengan, kecap, saus, dan 50 kilogram beras. Untuk perbaikan rumah, Taripah akan dibantu melalui instansi lain.

Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kabupaten Brebes memiliki anggaran sekitar Rp 1,8 miliar per tahun untuk mengatasi persoalan sosial, termasuk kemiskinan. Dana itu juga untuk hibah pada lembaga kemasyarakatan yang mengatasi masalah pengemis, gelandangan, dan orang telantar.

Kejadian warga memakan nasi aking bukan kali ini saja terjadi di Brebes. Kasus serupa juga pernah ditemukan di Desa Prapag Lor, Kecamatan Losari, tahun 2005; di Dukuh Banjangsari, Desa Randusanga Kulon, Kecamatan Brebes, tahun 2008; serta di Desa Kaligangsa Kulon, Kecamatan Brebes, pada tahun 2010.

Sumber: Kompas, 7 Februari 2013

Jika berlangganan Kompas Cetak online silahkan klik tautan di bawah ini:
http://cetak.kompas.com/read/2013/02/07/01481471/nasi.aking.menyentak.kembali…